Minggu, 01 November 2009

ruang lingkup pendidikan islam

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN ISLAM






Makalah ini Disusun Guna Mengerjakan
Tugas Ilmu Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Abdul Ghofur, M.Ag

Disusun Oleh :
1. Ika Nur Utami
2. Ismi Catur Pamungkas
3. Kalistya
4. Mita Susanti


JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
2009
BAB I
PENDAHULUAN

Manusia sebagai makhluk Tuhan, telah dikarunia Allah kemampuan-kemampuan dasar yang bersifat rohaniah dan jasmaniah, agar dengannya manusia mampu mempertahankan hidup serta memajukan kesejahteraanya.
Kemampuannya dasar manusia tersebut dalam sepanjang sejarah pertumbuhannya merupakan modal dasar untuk mengembangkan kehidupannya di segala bidang.
Sarana utama yang dibutuhkan untuk pengembangan kehidupan manusia tidak lain adalah pendidikan, boleh dikata pendidikan merupakan kunci dari segala bentuk kemajuan hidup umat manusia sepanjang sejarah. Pendidikan berkembang dari yang sederhana, yang berlangsung dalam zaman dimana manusia masih berada dalam ruang lingkup kehidupan yang serba sederhana. Tujuan-tujuannya pun amat terbatas pada hal-hal yang bersifat survival (pertahanan hidup terhadap ancaman alam sekitar). Yaitu keterampilan membuat alat-alat untuk mencari dan memproduksi bahan-bahan kebutuhan hidup, beserta pemeliharaannya.( M.Arifin:2)
Akan tetapi ketika manusia telah dapat membentuk masyarakat yang semakin berbudaya dengan tuntutan hidup yang makin tinggi, pendidikan ditujukan bukan hanya pada pembinaan keterampilan, melainkan kepada pengembangan kemampuan-kemampuan teoritis praktis berdasarkan konsep-konsep berfikir ilmiah.
Khusus masyarakat Islam yang berkembang sejak zaman Nabi Muhammad melaksanakan misi sucinya menyebarkan agamanya, pendidikan juga merupakan kunci kemajuan.
Adapun metode dasar untuk mendidik manusia agar mampu mengembangkan diri dalam kehidupan yang makin luas dan kompleks, terutama dalam memahami, menghayati dan mengamalkan missi agama Islam, berpangkal pada kemampuan “membaca dan menulis” dengan kalam: tidak saja sekedar membaca tulisan atau menuliskan hasil pengamatan, akan tetapi juga membaca, mamahami dan menjelaskan gejala alamiah yang diciptakan Tuhan dalam alam semesta ini.( Erwati:12)
Agar mampu membaca dengan tepat dan mendalam, Tuhan memberikan kepada manusia suatu kemampuan kecerdasan berfikir dan menganalisa gejala alam. Dengan mengetahui segala sesuatu yang terhampar di alam semesta dan yang berada dibalik alam semesta, barulah manusia dapat beriman melalui kesadarannya. Jadi dengan melalui proses membaca dan menulis dan mengetahui kemudian beriman, manusia baru dapat menduduki tingkat atau derajat yang tinggi, sebagaimana dinyatakan Allah dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11.
                                
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu : “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Secara teoritis pendidikan Islam sebagai ilmu atau disiplin ilmu adalah merupakan konsepsi pendidikan yang mengandung berbagai teori yang dikembangkan dari wawasan yang bersumber dari kitab suci Al Quran atau al Hadits, baik dilihat dari segi system, proses dan produk (hasil) yang diharapkan maupun dari segi (tugas pokoknya) untuk membudayakan umat manusia agar bahagia dan sejahtera dalam hidupnya. Dalam proses kependidikan Islam terdapat problema-problema yang kompleks (tidak sederhana), oleh karena melibatkan berbagai input enutromental (kebudayaan, tradisi, mitos, kemajuan ilmu dan teknologi yang berkembang di lingkungan sekitar).(Heri.N:47)
BAB II
RUANG LINGKUP PENDIDIKAN

Tugas pendidikan dimulai dari keluarga yang berkewajiban mentransfer pengalaman kepada anak untuk selanjutnya dapat membuka jalan hidupnya sendiri. Namun, pengalaman itu kemudian berakumulasi dan kebudayaan yang hendak ditransfer sanagat banyak dan kompleks akibat berintegarinya keluarga-keluarga dalam bentuk masyarakat dengn segala wataknya yang khas. Oleh sebab itu, diperlukan lembaga-lembaga khusus yang dapat melaksanakan tugas-tugas pendidikan tersebut sesuai dengan konsep dan kerangka yang diletakkan oleh masyarakat itu sendiri. Kemudian muncul gagasan tentang pendidikan sekolah dengan berbagai bentuknya.
Pendidikan merupakan proses yang lebih besar dari sekedar aktivitas persekolahan. Pendidikan, dengan mengesampingkan perbedaan mazhab dan orientasi, merupakan proses pengembangan sosial yang mengubah individu dan sekedarnya makhluk biologis menjadi makhluk sosial agar hidup bersama realitas zaman dan masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan merupakan proses pemberian sifat sosial kemanusiaan (humanisasi) kepada makhluk hidup. Pendidikan menghubungkan manusia dengan suatu masyarakat yang memiliki karakteristik kultural. Pendidikan memberi manusia sifat-sifat kemanusiaan yang membedakannya dari makhluk-makhluk hidup lainnya, serta memberinya pola-pola hidup dalam suatu masa dengan harapan ia akan menerapkannya kemudia menambah dan mengurangi sendiri.
Dengan makna tersebut, pendidikan dipandang sebagai seni mentransfer warisan dan ilmu membangun masa depan. Pendidikan merupakan proses persiapan untuk hidup melalui kehidupan itu sendiri dimana aspek-aspek fisik, intelektual, dan spiritual, individu diperhatikan. Atas dasar itu, tugas pendidik adalah memperhatikan pendidikan hati, kepala dan tangan (heart, head, hand)
Ruang lingkup pendidikan terbagi menjadi 3 materi pokok yang terkandung dalam :

1. Tarbiyatul Aqliyah
2. Tarbiyah Jismiyah
3. Tarbiyatul Khuluqiyah

1. Tarbiyah Aqliyah (IQ Learning)
Tarbiyah Aqliyah atau sering dikenal dengan istilah pendidikan rasional (intellegence question learning) merupakan pendidikan yang mengedepankan kecerdasan akal. Tujuan yang diinginkan dalam pendidikan itu adalah bagaimana mendorong anak agar bisa berfikir secara logis terhadap apa yang dilihat dan indra oleh mereka, input, proses, dan output pendidikan anak diorientasikan pada rasio (intellegence oriented) yakni bagaimana anak dapat membuat analisis, penalaran, dan bahkan sintesis untuk memecahkan suatu masalah. Misalnya melatih indra untuk membedakan hal yang diamati, mengamati terhadap hakikat apa yang diamati, mendorong anak bercita-cita dalam menemukan suatu yang berguna dan melatih anak untuk memberikan bukti terhadap apa yang mereka simpulkan.
2. Tarbiyah Jismiyah (Physical Learning)
Tarbiyah Jismiyah yaitu segala kegiatan yang bersifat fisik untuk mengembangkan biologis anak tingkat daya tubuh sehingga mampu untuk melaksanakan tugas yang diberikan padanya baik secara individu ataupun sosial nantinya, dengan keyakinan bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat Al-Aqlussalim fi jismissalim sehingga banyak diberikan beberapa permainan oleh mereka dalam jenis pendidikan ini.
3. Tarbiyatul Khuluqiyah (SQ Learning)
Tarbiyatul Khuluqiyah disini diartikan sebagai konsistensi seseorang bagaimana memegang nilai kebaikan dalam situasi dan kondisi apapun dia berada seperti: kejujuran, keikhlasan, mengalah, senang bekerja, kebersihan, keberanian dalam membela yang benar, bersandar pada diri tidak pada orang lain, dan begitu juga bagaiman tata cara hidup berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu maka pendidikan akhlak tidak dapat dijalankan dengan hanya menghafalkan saja tentang hal baik dan buruk, tapi bagaimana menjalankannya sesuai dengan nilai-nilainya. Ada beberapa bagian dalam hal ini antara lain:
1. mengumpulkan mereka dalam satu kelompok yang berbeda karakter,
2. membantu mereka untuk menemukan jati dirinya dengan memberikan pelatihan, ujian, dan tempaan.
3. membentuk kepribadian dengan selalu menjauhi hal yang jelek dan berpegang teguh terhadap nilai kebaikan.
Permasalahan kehidupan yang oerlu menjadi perhatian ialah pendidikan. Ayat-ayat tentang pendidikan banyak terdapat di dalam Al Quran, meskipun masih bersifat umum sehingga tidak mudah diaplikasikan begitu saja ke dalam kehidupan umat. Oleh karena itu, ayat-ayat tentang pendidikan tersebut perlu dikaji secara seksama agar dapat ditangkap petunjuknya dan dapat diterapkan di tengah masyarakat untuk pembimbing mereka ke jalan yang benar.
Surat Al-Alaq adalah salah satu di dalam Al Quran turun pada periode awal. Ayat 1 – 5 merupakan ayat yagn pertama kali turun kepada Nabi Muhammad.
Para ahli pendidikan Islam senantiasa memasukkan ayat 1 – 5 dari surat Al-Alaq ini sebagai ayat pendidikan, seperti Ghazali, Muhammad Fadhil Jamali, Fathiyah Hasan Sulaiman, dan Hasan Langgulung.
Surat Al-Alaq adalah salah satu surat di dalam Al Quran yang terdiri atas 19 ayat dan merupakan surat ke-96 di dalam mushaf.
Surat Al-Alaq yang terdiri atas 19 ayat ini merupakan surat Makkiyah atau surat yang diturunkan Allah pada aperiode makkah. Ayat 1 – 5 adalah ayat-ayat yang pertama kali diturunkan Allah SWT di gua Hira’ ketika Nabi SAW, bertahan nus. Surat ini, antara lain berisi perintah membaca, tentang alat tulis, unsur-unsur pendidikan, sifat dan keadaan manusia yang jahat serta durhaka.
Prinsip-prinsip pendidikan yang akan dikaji di dalam surat Al-Alaq ini berkenan dengan pendidikan secara umum, seperti materi pendidikan, metode pendidikan, pendidik, anak didik (peserta didik), dan tujuan pendidikan.





A. Hakikat Pendidikan Islam
Hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangan.
Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian “memberi makanan” (opseanding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniyah, juga sering diajukan dengan menumbuhkan kemampuan dasar manusia. Bila ingin diarahkan kepada pertumbuhan sesuai dengan ajaran Islam, maka harus berproses melalui sistem pendidikan Islam, baik melalui kelembagaan maupun melalui sistem kurikuler.
Esensi daripada potensi dinamis dalam setiap diri manusia itu terletak pada keimanan / keyakinannya. Ilmu pengetahuan akhlak (moralitas) dana pengalamannya. Dan keempat potensi esensial ini menjadi tujuan fungsional pendidikan Islam.
Oleh karenanya, maka dalam strategi pendidikan Islam, keempat potensi dinamis yang esensial tersebut menjadi titik pusat dari lingkaran proses pendidikan Islam sampai kepada tercapainya tujuan akhir pendidikan, yaitu manusia dewasa yang mukmin, muslim,dan muchlisinmuttaqin.
Pendidikan Islam itu buisa dibilang proses, maka dibutuhkan juga sebuah sistem dan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai melalui proses proses sistem tertentu karena sasaran dan tujuan yang jelas akan menghilangkan nilai hakiki pendidikan.(M.Arifin:32)

B. Sasaran Pendidikan Islam
Sejalan dengan misi agama Islam yang bertujuan memberikan bagi sekalian makhluk di alam ini, maka pendidikan Islam mengidentifikasikan sasaran yang digali dari sumber ajaran Alquran, meliputi empat pengembangan fungsi manusia.
1. Menyadarkan manusia secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah makhluk lain, serta tentang tanggung jawab dalam kehidupan, dengan kesadaran ini, manusia akan mampu berperan sebagai makhluk Allah yang paling utama diantara makhluk-makhluk lainnya sehingga mampu berfungsi sebagai kholifah dimuka bumi ini, karena manusia sedikit lebih tinggi kejadiannnya dari malaikat, yang hanya terdiri dari unsur-unsur rokhaniyah, yaitu nur ilahi. Manusia adalah makhluk yang terdiri dari perpaduan unsur-unsur rohani dan jasmani.
2. Menyadari fungsi dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggungjawabnya terhadap ketertiban masyarakat itu. Oleh karenaitu manusia harus mengadakan interrelasi dan interaksi dengan sesamanya dalam kehidupan bermasyarakat. Manusia adalah homo sosius (makhluk sosial). Itulah sebabnya mengapa Islam mengajarkan tentang persamaan, persaudaraan, kegotongroyongan, dan musyawarah yang dapat membentuk masyarakat itu menjadi persekutuan hidup yang utuh.
3. Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu, mannusia sebagai Homodivinans (makhluk yang berketuhanan) sikap dan watak religiusnya perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu menjiwai dan mewarnai kehidupannya. Pada hakikatnya, dalam diri tiap manusia telah diberi kemampuan untuk beragaam dan kemampuan itu berada di dalam fitrahnya secara alami. Oleh karena itu seorang saujana barat, C. G. Jung, memandang kemampuan beragama ini sebagai Naturaliter Religiosa (naluri beragama)
4. Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap mekhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaat.
Dengan kesadaran demikian, maka manusia sebagai khalifah di atas bumi dan yang terabaik diantara makhluk lain, akan mendorong untuk melakukan penglolaan, mengeksploitasikan serta mendayagunakan ciptaan Allah untuk kesejahteraan hidup bersama-sama dengan lainya. Pada akhirnya, kesejahteraan hidup bersama-sama dengan lainya. Pada akhirnya, kesejahteraan yang diperolehnya itu digunakan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat. Bukanlah dunia ini bagaikan ladang untuk digarap dan di tanam dengan tanaman yang berguna bagi hidupnya di akhirat nanti?
Selain itu, dalam kejadian alam ciptaan Allah ini terkandung rahasia yang bila dapat diungkapkan, akan memberikan cakrawala ilmu pengetahuan yang benar serta hikmah-hikmah yang tinggi bagi manusia. Oleh karena itu terserah kepada manusia sendiri, bagaimana cara mengungkapkan rahasia tersebut. Sudah tentu faktor akal budi (ratio), sangat menentukan mampu tidaknya manusia menggali dan mengungkapkan rahasia-rahasia alam tersebut. Untuk itu faktor kegiatan belajar dan mengajar merupakan pangkal tolak dari kemampuan tersebut di atas.( M.Arifin:33-37)

C. Tujuan Pendidikan Islam
Dilihat dari ilmu pendidikan teoritis, tujuan pendidikan ditempuh secara bertingkat, misalnya tujuan intermedier (sementara atau antara), yang dijadikan batas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu, untuk mencapai tujuan akhir.
Tujuan insidental merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, akan tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tingkat tertentu. Misalnya, peristiwa meletusnya gunung berapi, dapat dijadikan sasaran pendidikan yang mengandung tujuan tertentu, yaitu anak didik timbul kemampuannnya untuk memahami arti kekuasaan Tuhan yang harus diyakini kebenarannya. Tahap kemampuan ini menjadi bagian dari tujuan antara untuk mencapai tujuan akhir pendidikan.
Berbagai tingkat pendidikan yang dirumuskan secara teoritis itu bertujuan untuk memudahkan proses kependidikan melalui tahapan yang makin meningkat (progresif) ke arah tujuan akhir.
Dalam sistem operasionalisasi kelembagaan pendidikan berbagai tingkat tujuan tersebut ditetapkan secara berjenjang dalam struktur program instruksional, sehingga tergambarlah klasidikasi gradual yang semakin meningkat, bila dilihat dari pendekatan sistem instruksional tertentu sebagai berikut:
(1) Tujuan instruksional khusus, diarahkan pada setiap bidang studi yang harus dikuasai dan diamalkan oleh anak didik.
(2) Tujuan instruktusional umum, diarahkan pada pengusaan atau pengamatan suatu bidang umum atau garis besarnya sebagai kebetulan.
(3) Tujuan kurikuler, yang ditetapkan untuk dicapai melalui garis-garis besar program pengajaran ditiap institusi (lembaga) pendidikan.
(4) Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai menurut program pendidikan di tiap sekolah atau lembaga pendidikan tertentu secara bulat atau terminal seperti tujuan institusional SMTP / SMTA atau STM / SPG (tujuan terminal)
(5) Tujuan umum atau tujuan nasional adalah cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai melalu proses kependidikan dengan berbagai cara atau sistem, baik sistem formal (sekolah), sistem nonformal (non klasikal dan non kurikuler) maupun informal (yang tidak terikat oleh formalitas program, waktu, ruan gdan materi)
Tujuan terakhir dari kependidikan Islan itu terletak dalam realisasi sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perorangan, masyarakat, maupun sebagai umat manusia seluruhnya.( M.Arifin:39)
Sebagai hamba Allah yagn berserah diri kepada khaliknya, ia adalah hambaNya yang berilmu pengetahuan dan beriman secara bulat, sesuai kehendak penciptaNya untuk merealisasikan cita-cita yang terkandung dalam kalimat ajaran Allah:


Sesungguhnya sholatku dan ibadahku danhidupku serta matiku hanya untuk Allah, pendidikan sekalian alam.
Mengingat tujuan pendidikan yang begitu luas, tujuan tersebut dibedakan dalam beberapa bidang menurut tugas dan fungsi manusia secara filosofis sebagai berikut :
(1) Tujuan individual yang menyangkut individu, melalui proses belajr dalam rangka mempersiapkan dirinya dalam kehidupan dunia dan akhirat.
(2) Tujuan sosial yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat umumnya serta dengan perubahan-perubahan yang diinginkan pada pertumbuhan pribadi, pengalaman dan kemajuan hidupnya.
(3) Tujuan profesional yang menyangkut pengajaran sebagai ilmu,seni profesi serta sebagai suatu kegiatan dalam masyarakat.























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Pendidikan tidak boleh hanya memberikan bekal untuk membangun, tetapi seberapa jauh didikan yang diberikan itu dapat berguna untuk menunjang kemajuan suatu bangsa. Semangat progresif yang terkandung dalam rumusan pendidikan yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara tersebut nampak mengingatkan kita kepada pesan khalifah Umar Ibn Al Khatab yang mengatakan bahwa anak-anak muda sekarang adalah generasi di masa yang akan datang. Dunia dan kehidupan yang akan mereka hadapi berbeda dengna dunia yang sekarang. Untuk itu apa yang diberikan kepada anak didik harus memperkirakan kemungkinan relevasi dan kegunaannya di masa datang dengan cara demikian eksistensi dan fungsi lulusan anak didik tetap terpelihara dengan baik.
















DAFTAR PUSTAKA

Arifin,H.M.2000.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Aly, Hery Noer.2003. Watak Pendidikan Islam.Jakarta Utara : Friska Agung Insani.
Aziz, erwati.2003.Prinsip-prinsip Pendidikan Islam. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
http ://mkpd.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar