Minggu, 01 November 2009

perkembangan peradaban islam

Perkembangan Peradaban Islam Masa Kerajaan Mongol di India




























Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi
Tugas SPI


Dosen Pengampu : Bp. Mahbub


Disusun Oleh :

1. Khoirul Yudi Setiawan
2. Maya Supra Hapsari
3. Mita Susanti
4. M.Hermansyah
5. M.Zainal Abidin







Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri
Surakarta
2009





BAB I
PENDAHULUAN


Setiap bangsa pastilah memiliki sejarah masa lalunya, beserta hasil peradaban saat itu. Sebagaimana dengan peradaban-peradaban di dunia, bangsa Mongol pun memiliki kekayaan sejarah dan kebudayaan yang tak ternilai sumbangannya terhadap peradaban dunia pada umumnya dan Islam pada khususnya. Dalam pengetahuan sejarah, bangsa Mongol mulai muncul pada akhir abad XII dan awal abad XIII M. Hal itu terungkap dalam buku Genghis Khan, the Congueror Emperor of Au Men, dan beberapa sumber Persia dan China. Bangsa Mongol pada mulanya merupakan entitasmasyarakat yang mendiami hutan Siberia dan Mongolia luar. Mereka menempati wilayah diantara gurun pasir Gobi dan danau Baikal. Meraka adalah salah satu anak rumpun dari bangsa Tartar.

Bangsa Mongol, hidup sebagai pengembara dan tinggal di perkemahan. Merka hidup sederhana. Mereka hidup sederhana dengan cara berburu binatang dan menggembala domba. Mereka hidup dengan tidak bersih. Sebagian besar diantara mereka menyembah matahari saat terbit. Bangsa tersebut tidak beradab, namun pemberani, sabar, tahan sakit dan tekanan dari musuh dengan fisik yang kuat, yang paling menonjol dari mereka sangat patuh kepada kepala suku atau pimpinan. Pada tahun 1206 dalam Quriltay ( sidang kepala suku bangsa Mongol ), dihasilkan kesepakatan untuk mengangkat Chenghis Khan sebagai pemimpin tertinggi bangsa Mongol. Nama Chenghis Khan sebenarnya adalah gelar bagi Temujin / Temucin anak dari pemimpin atau khan Bangsa Mongol yang dalam sejarah bernama Yesugey Ba’atur ( W. 1175M ). Dalam masa kepemimpinan, Chenghis Khan menyempurnakan moral masyarakatnya dengan undang-undang social yang dibuatnya, yakni Ulang Yassa / ulang yasa / asaq / yassa / yasa. Peraturan tersebut antara lain dimaksudkan untuk memberi landasan yang kokoh bagi bangsanya guna menghadapi tantangan dan memperluas wilayahnya, baik ke China maupun ke negeri-negeri Islam, bahkan ambisinya untuk dapat menguasaidunia, sebagaimanadirinya dijuluki sebagai Alexander For Asia.

Sepeninggal Chenghis Khan daerah kekeuasaan yang sangat luas, dibagi kepada empat anaknya : Jochi, Chaghtai, Oghtai dan Touly, dan dia menunjuk anak ke tiga ( Oghtay )sebagai khan Agung. Sementara itu anak pertamanya Jochi berhasil menguasai lembah sungai Voigha dan Siberia yang dipimpin oleh anak pertamnya yang bernama batu, dan Batu inilah yang merintis dunia kipcak atau dengan nama lain Golden Horde’. Pada perkembangan berikutnya mereka masuk Islam dan mampu menaklukkan Rusia, Polandia dan sekitarnya. Chogtai putra ke-II nya, menyerbu Asia Tengah, ia ikut bersama. Atas nama Chogtai dinasti Mongol di asia tengah ini dikenal sebagai dinasti Chogtai. Pemimpin kalangan mongol chogtai yang pertama kali masuk islam adalah cicit dari chogtai atau anak dari ichu mangguki yang bernamaMubarrak. Pada perkembangan berikutnya dinasti ini mengalami kemunduran ditandai dengan sering bergantinya pemimpin hingga 17 kali, dan dengan konflik itu dimanfaatkan secara baik oleh Timurlang untuk memegang kekuasaan. Timur ini merupakan keturunan Chengis dari garis ibunya. Sementara dari garis ayahnya merupakan keturunan Turki.

Dinasti baru rintisan Batu, Golden Horde’ berkembang pesat, mengubur hasil-hasil peradaban yang pernah ada sebelumnya. Mereka berhasil membangun peradaban yang tinggi. Golden Horde’ ini mencapai puncak kejayaan dalam waktu yang lama yang dipimpin diantaranya oleh Berce, Tokhramis dan Uzbeg Khan. Dinasti ini bertahan sampai tahun 1502 M dan runtuh karena kalah dengan kekuasaan Persia. Putra bungsu Chengis, Touly adalah pemimpin besar. Putranya, Hulagu khan yang kemudian hari melahirkan dinasti ilkhan. Setelah Touly wafat, dinasti ini dipimpin oleh Hulogu, abogha dan Tagudar. Dan setelah Tagudar masuk islam dia berganti nama Ahmad. Selanjutnya pada generasi V dari Chengis khan ( penguasa Ilkhan VII ). Gazhan khan, peradaban islam mencapai puncak kejayaannya. Dan periode ini merupakan masa keemasan setelah kehancuran Baghdad.








BAB II
ISI


A. Asal- Usul Bangsa Mongol

Bangsa Mongol berada diwilayah pegunungan Mongolia, berbatasan dengan Cina di selatan, Turkestan di barat, Manchuria di Timur dan Siberia di sebelah utara ( Ambari, 1993:97 ). Kebanyakan dari mereka mendiami padan stepa yang membentang diantara pegunungan Ural sampai pegunungan Altai di Asia Tengah, dan mendiami hutan Siberia dan Mongol disekitar Danau Baikal ( Bosworth, 1993:187 ).

Dalam rentang waktu yang relative panjang, kehidupan bangsa Mongol tetap sederhana mereka mendirikan perkemahan dan berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, menggembala kambing, berburu. Mereka hidup dari hasil perdagangan tradisional yaitu mempertukarkan bangsa Turki dan Cina yang menjadi tetangga mereka. Kesehariannya, sebagaiamana dipredikatkan pada sifat nomad, mereka mempunyai sifat kasar, suka berperang, berani mati dalam mewujudkan keinginan dan ambisi politiknya. Namun, mereka sangat patuh dan taat pada pimpinannya dalam satu bingkai agama Syamaniyah, yaitu kepercayaan yang menyembah binatang-binatang dan matahari terbit ( Yatim, 2003: 111-112 ).

Namun demikian, ada satu pendapat yang mengatakan bahwa bangsa Mongol bukanlah suku nomad sebagaimana dimaksud, tetapi satu bangsa yang memiliki ketangkasan berkuda yang mampu menaklukkan stepa ke stepa, akibatnya kehidupan mereka berpindah-pindah mengikuti wilayah taklukannya dibawah kepemimpinan seorang Khan. Khan yang pertama dari bangsa Mongol itu adalah Yesugey, ayah Chinggis atau Jengis.

Runtut etniknya berasal dari nenek moyang yang bernama Alanja Khan yang dikaruniai dua orang putra kembar yaitu Tartar dan Mongol. Dari kedua putra ini melahirkan dua keturunan bangsa, yaitu Mongol dan Tartar. Dari yang pertama lahirlah seorang bernama Ilkhan yang kemudian hari menjadi pemimpin bangsa Mongol.

Pada masa kerajaan Mongol dipimpin oleh Ilkhan dan Tartar oleh Sanja Khan, keduanya berselisih hingga perselisihannya membawa kepada peperangan yang berakhir dengan kemenangan Sanja Khan dari Tartar. Maka kerajaan Mongol selanjutnya berada dibawah kekuasaan Tartar. Kemudian setalah kerajaan Mongol kuat kembali, mereka menggulingkan kekuatan Tartar dan tampil sebagai penguasa kerajaan-kerajaan yang ada.

























Kehancuran dari serangan bangsa Mongol. Jengis Khan juga mengutus anak-anaknya yaitu Tulii untuk menaklukkan Khurasan dan Juchi dan Changhatai untuk menaklukkan wilayah Sri Darya bawah dan Kahwarizm ( Bosworth, 1993: 177 )

Sebelum Jengis Khan meninggal dunia tahu 1227 M, ia membagikan wilayah yang begitu luas kepada ke empat anaknya. Pertama, adalah Juchi anak sulungnya menduduki wilayah Siberia bagian barat dan stepa Qipchaq termasuk juga Khawarizm. Sebelum ia dapat memimpin wilayah tersebut ia meninggal dunia sebelum jengis Khan. Tetapi warisan wilayah itu telah diberikan kepada anaknya yaitu Batu dan Orda.

Kedua adalah Chagatay. Wilayahnya meliputi Transoxania sampai ke Turkistan Timur atau Turkistan Cina. Keturunan Chagatay yang ada du barat yaitu Tarnsoxania telah masuk kedalam kawasan pengaruh islam, tetapi kemudian dapat dikalahkan Timur Lenk. Dari Turkistan Timur ia meluaskan daerah ke Serimechye Ili, Tien syan di Tarim. Mereka tidak terpengaruh Islam tetapi ikut dalam penyebaran Islam di Turkistan Cina abad XVII

Ketiga adalah Ogotai. Ia terpilih menjadi Khan Agung menggantikan Jengis Khan. Setelah mencapai dua generasi, ke-Khan-an Tertinggi disebut keturunan Tohey.

Keempat adalah Tulii. Ia menerima daerah Mongolia. Bersama dengan anak-anaknyaMongke dan Qubilay Khan. Mongke tetap berthan di Mongolia sebagai Khan Agung dengan ibukota Qaraqarum dan Qubilay Khan memerintah di Cina yang terkenal dengan Dinasti Yuan sampai avbad XIV. Kemudian digantikan oleh dinasti Ming yang beragama Budha yang berpusat di Beijing kemudian mereka bertikai dengan ke-Khan-an Islam di Barat dan Rusia. Hulagu Khan saudara Qubilay Khan menyerang daerah-daerah Islam sampai Bagdad.

Setelah Hulagu menaklukkan Bagdad ia mendirikan kerajaan Ilkhaniyah di Persia atas nama pemerintahan Khan Agung di Mongolia dan Cina dengan gelar Ilkhan dan membunuh Khalifah terakhir Abbasiyah al Mu’tasim ( 13 Februari 1258 ). Bagdad dan daerah-daerah yang ditaklukkan Hulagu selanjutnya diperintah oleh Dinasti Ilkhan. Ilkhan adalah gelar yang diberikan kepada Hulagu ( Nasution, 1985:80 ). Umat Islam dengan demikian dipimpin oleh Hulagu Khan, seorang raja yang beragama Syamanism. Hulagu memerintah sampai tahun 1265 M kemudian diganti oleh anaknya Abaga hingga tahun 1282 M. ia beragama KRISTEN Nestorian dan bersekutu dengan KRISTEN Eropa, Armenia Cilicia untuk melawan Mameluk dan saudara-saudaranya dari dinasti Horde keemasan yang didirikan Batu anak dari Juchi yang beragama Islam.

Setelah kematian Qubilay Khan (1294 M), maka wilayah kekuasaannya terlepas. Mahmud Ghazan yang sudah masuk Islam memerintah Rasyid al-Din al-Thabib dan Uljaytu agar menuliskan sejarah universalnya. Dibawah pemerintahan Mahmud Ghazna bersama menterinya Rasyid al-Din al-Thabib banyak mengalami kemajuan. Penguasa terakhir Ilkhaniyah adalah Abu Said yang berdamai dengan Mameluk tahun 1323 M dan mengakhiri permusuhan antara kedua kekuasaan itu untuk merebut Syiria.

Ilkhaniyah beribukota di tbris dan Maragha yang merukoakan kota perdagangan antara Timur dan Barat. Selama seratus tahun, Ilkahniyah di Persia terpecaha menjadi kerjaan kecil seperti Muzafariyyah dan Salaghariyyah di faris, dan Jalariyyah dengan ibukota Bagdad.

Dengan kepercayaan dari saudara Moghe Khan, Hulagu dapat menguasai Persia, Irak, Caucasus dan Asia Kecil. Sebelum menaklukkan Bagdad, pada tahun 1256 M Hulagu telah menguasai pusat gerakan syi’ah di Persia Utara. Tahun 1260 M Hulagu juga menaklukkan Syiria Utara Seperti Allepo, Hama dan Hmim. Ketika Hulagu ingin menaklukkan Mesir ia dapat digagalkan oleh pasukan Mamalik Mesir di ‘Ann-Jalut di Palestina ( tahun 1260M ).









Pada abad ke-12, Mongol dipimpin oleh Yasughi Bahadar Khan. Ia mempersatukan 13 suku dari ras Mongoloid. Kemudian membentuk suatu kekuatan militer yang amat taangguh sehingga ditakuti oleh daerah-daerah sekitarnya. Sepeninggal Yasughi kerajaan dipegang olej Temujin ( 1167-1227 M) putranya sendiri yang ketika naik tahta masih berusia 13 tahun. Sekalipun relative muda ia sangat berambisi untuk menguasai wilayah diluar Mongolia. Sebelum memenuhi obseseinya itu ia melakukan konsolidasi intern dengan memperkokoh dibidang militer.

Pada tahun 1206 M, Temujin mengadakan peseta besar-besaran bersama kepala suku yang berada dalam persekutuannya yang dihadiri oleh pemuka agama dan tokoh masyarakat. Pada saat itulah para pemuka agama mengatakan bahwa “ langit “ telah memberikan gelar “ Jengiz Khan “ pada Temujin yang berarti raja yang kuat dan perkasa. Pada saat itu pula Jengiz Khan mengumumkan undang-undang yang disebut “ al-yasuk “ yang mengatur kehidupan rakyat dan semua kerajaan yang berada dalam konfederasi Mongol.

Dalam memenuhi obsesinya, pertama-tama ia berusaha untuk menguasai Cina. Pada Tahun 1215 M, ia dapat menduduki Peking ( Ibu kota Cina, Beijing ). Setelah itu dia konsentrasi kesebelah barat wilayah yang dihuni oleh umat Islam. Yang ia lakukan pertama, mengadakan kontak dagang dengan pihak Khawarizm sebagai uasaha untuk mengenali situasi dan kondisi kekuasaan Islam si Asia Tengah. Ala’ Uddin Muhammad Khawarizm menerima kontak diplomasi perdagangan ini dengan amat hati-hati, sehingga tidak lama kemudian para pedagang Mongol yang beroperasi dipasar utara ditangkap oleh penguasa local karena dicurigai sebagai mata-mata. Tetapi alasan yang dikemukakan oleh penguasa utara adalah [ara pedagang Mongol tersebut melakukan tindakan kasar yang merugikan pedagang setempat.

Hal ini menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari jengiz Khan. Ia meminta Ala’ Uddin untuk menyerahkan penguasa utara tapi Ala’Uddin menolaknya. Hal ini menjadi alas an bagi Jengiz Khan untuk menyerang Dinasti Khawarizm, tetapi pertempurannya tidak membawa hasil.
Pada tahun 1220 M, Jengiz Khan bersama pasukan datang ke Bukhora untuk melakukan serangan terhadap Khawarizm dan dimenangkan pasukan Jengiz Khan, Ala’Uddin tidak mampu menahan serangan Jengiz Khan. Ia memerintah penduduk Bukhora meninggalkan kota tanpa membawa suatu apapun kecuali yang melekat di badan, bagi mereka yang membangkang dan tetap didalam kota akan dibunuh.

Selain itu mereka mengadakan pengrusakan terhadap bangunan-bangunan masjid dan madrasah, membakar kitab suci dan kitab-kitab lain yang mereka temui dalam perpustakaaan. Ibnu Asia ( sejarahwan ) menyatakan bahwa perusakan tersebut menjadikan Bukhora rata bagaikan tak pernah ada sebelumnya ( Hoeve, 1993:255 )



B. Wilayah Kekuasaan Mongol dan Dinasti Ilkhan

Perpaduan antara watak nomad dengan ketangkasannya menunggang kuda, serta keberaniaannya melawan musuh mengantarkan Bangsa Mongol menjadi bangsa penakluk. Terbikti banyak negara-negara di dunia yang telah ditaklukkan meliputi kawasan Cina dan negeri-negeri Islam, Khususnya ketika Mongol dipimpin oleh Jengiz Khan. Cina Bagian Barat, Tibet, ditaklukkan sekitar tahun 1213 M, dan Beijing tahun 1215 M.

Tiga tahun berikutnya dia dapat menguasai kota Thurkistan yang berbatasan dengan Khawarizm syah yang menjadi wilayah Islam. Selanjutnya, secara berturut-turut Turkistan yang juga merupakan wilayah Khawarizm, Bukhara di Samarkhand dan Balk, serta kota-kota lain yang memiliki peradaban Islam yang tinggi di Asia Tengah tidak luput dari









Wilayah Ilkhaniyah yang berada di Irak, Kurdistan dan Azerbeijan diwarisi oleh Dinasti Jalayiriyah, tetapi masih memusatkan kekuasaan di Bagdad. Di masa Uways, pengganti Hasan Agung, ia dapat menaklukkan Azerbeijan, tetapi mendapat perlawanan dari Dinasti Muzaffariyah dan penguasa Horde keemasan. Tetapi mereka dapat ditaklukkan oleh Qara Qoyunlu ( Domba Hitam ) yaitu orang-orang Turkmen yang lari ke Timur akubat invasi Mongol.

Kedudukan Dinasti-Dinasti ini dapat bertahan sampai datangnya Timur Lenk yang mempersatukan mereka dengan membentuk Dinasti Timuriyah yang berpusat di Samarkand ( Glasse, 1996: 201 )

Daerah-daerah culture Islam yang ada dikawasan Arab yaitu Irak, Syiria dan Persia Barat telah ditaklukkan Mongol, tetapi Mongol sendiri telah mengikuti atau terserap dengan budaya Islam.



C. Kerajaan-Kerajaan Kekuasaan Mongol

Kerjaan ( negara-negara ) yang dikuasai Jengiz Khan pada masa itu sangatlah banyak dan memiliki empat putra maka untuk mengatur negara-negara bawahannya Jengiz Khan membagi menjadi empat bagian untuk putranya berempat.
• Putra pertama Juchi Khan, dia mendapat bagian Liberia Barat, Stepa Tarta Utara, Khawarizm. Tetapi 4 bulan berikutnya Juchi meninggal maka digantikan anaknya Batu Khan. Dialah yang menaklukkan Rusia, Polandia, Bulgaria dan Maghyar ( Eropa Timur ) dan dia bermaksud hendak menaklukkan konstatinopel pusat kerajaan Byzantium pada masa itu. Tetapi sebelum melakukan penjarahan kesana dia sudah mati.

• Putra kedua Chagatay Khan, mendapat bagian wilayah yang ke timur dari Transxania sampai Turkistan timur atau Turkistan Cina. Cabang barat keturunan Chagatay di Transoxania segera masuk kedalam lingkungan pengaruh Islam, namun ditumpabangkan oleh Timur. Cabang timurnya Seminechi dan Ili, Tien Syan. Tarim lebih tahan terhadap Islam. Namun keturunan Chagatay di timur pada akhirnya membantu menyebarkan Islam di Turkistan Cina dan mereka berada disana sampai abad ke 17.


• Putra ketiga Ogotai Khan, mendapat kekuasaan di Tartar Tengah dan Tiongkok Utara. Ogotai inilah yang menyambut gelar ayahnya yang besar “ khan “. Ogotai ini pula yang menurunkan kaisar Kubilai Khan yang terkenal dalam sejarah Tiongkok. Sejak itu yang berhak memakai gelar “ khan “ diantara mereka ialah yang jadi kaisar di tiongkok. Namun selama dua generasi ke-khan-an tertinggi jatuh ke tangan keturunan-keturunan Tulii Khan.

• Putra Keempat Tulii Kahn, kepadanya diserahkan tanah Iran, Khurason, Kabul ( ibu kota afganistan ), juga Heartland kekaisaran mongol yaitu Mongolia itu sendiri. Yang merka kuasai meliputi daerah-daerah taklukan Cina dimana Mongol dikenal sebagai Dinasti Yuan. Dan memerintah sampai separuh abad ke 14. daya tarik cultural dan keagamaan peradaban cina ternyata kuat bagi Khan-khan agung di Peking. Mereka memeluk agama Budha dan hal ini membuka peluang pertikaian dengan khan-khan Mongol Asia BArat dan rusia yang memeluk Islam. Adalah salah satu saudara Kubilai yaitu Hulagu ( anak Tulii khan ) yang melancarkan gelombang baru penaklukkan ke dunia Islam dan mendirikan Ilkhaniyah di Persia dengan demikian ke-khan-an di Asia Barat, untuk maksud-maksud praktis tak lagi mengakui kekuasaan kahan-khan Agung di Mongolia dan Peking.









D. Kemajuan Bangsa Mongol

Pada masa pemerintahan Bahadur Khan, Mongol mengalami kemajuan yang sangat besar karena pada masa itu, Bahadur berhasil menyatukan 13 kelompok suku bangsa. Kemudian pada masa pemerintahan Hulagu Khan banyak wilayah yang telah ditaklukannya. Diantaranya adalah kota Baghdad yang pada waktu itu dipimpin oleh Khalifah al-Mu’tashim. Khalifah al-Mu’tashim tidak mampu membendung topan tentara Hulagu Khan. Selanjutnya Hulagu melanjutkan gerakannya ke Syria dan Mesir. Dari Baghdad pasukan Mongol menyeberangi sungai Khuprat menuju Syria, kemudian melintasi Sinai.

Selanjutnya pada masa pemerintahan Ghazan, yakni raja yang ketujuh Dinasti Ilkhan, ia mulai memperhatikan perkembangan peradaban. Ia seorang pelindung ilmu pengetahuan dan sastra. Oleh karena itu ia membangun semacam biara untuk para Darwis, perguruan tinggi untuk mazhab Syafi’I dan Hanafi, sebuah perpustakaan, observatorium dan gedung-gedung umum lainnya (Yatim, 1998:117).


E. Sebab-sebab Kemunduran Bangsa Mongol

• Kekalahan pasukan Mongol di bawah panglima Kitbugha atas pasukan Mamalik di bwah panglima Qutuz.

Panglima tentara Mongol, Kitbugha, mengirim utusan ke Mesir meminta supaya Sultan Qutuz yang menjadi raja kerajaan Mamalik untuk menyerah. Permintaan itu ditolak oleh Qutuz dan utusan Kitbugha tersebut dibunuhnya. Tindakan Qutuz itu menimbulkan kemarahan dikalangan tentara Mongol. Kitbugha kemudian melintas Jordania menuju Galilei. Pasukan ini bertemu dengan pasukan Mamalik yang dipimpin langsung oleh Qutuz. Pertempuran dahsyat terjadi sehingga pasukan Mamalik berhasil menghancurkan tentara Mongol pada tanggal 3 September 1260 M. Hal inilah yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Mongol di Cina.

• Pada saat Mongol diperintah oleh Abu Sa’id 1317-1335 M), terjadi bencana kelaparan yang sangat menyedihkan dan angina topan dengan hujan es yang mendatangkan malapetaka. Kerajaan Ilkhan yang didirikan Hulagu Khan akhirnya terpecah belah sepeninggal Abu Sa’id dan masing-masing pecahan saling memerangi. Akhirnya mereka semua ditaklukkan oleh Timur Lenk (Hassan, 1989:312).


























BAB III
PENUTUP


Sejarah perjalanan umat Islam memiliki kekhasan tersendiri pada setiap daerah yang didudukinya. Islam memiliki sejarah panjang dan variasi model penyebaran yang unik dan berliku. Dalam perspektif Barat, Islam tidak lebih dari sebuah ajaran yang diperjuangkan dengan darah dan pedang. Namun sebaliknya justru Islam telah melakukan pembebasan bagi masyarakat lokal yang ditindas atas hegemoni dua imperium besar saat itu : Persia dan Romawi, yang menghisap dan menteror masyarakat-masyarakat daerah yang dikuasai dari persoalan politik, ekonomi, social, budaya, dan Agama. Dengan demikian, kehadiran Islam sebagai agama pembebas bagi ketertindasan tersebut, justru dinanti dan diharapkan. Akan tetapi tidak sedikit pula Islam hadir di tengah masyarakat dengan penetration pasifique, karena Islam mampu mendialogkan ajaran agama dengan realitas masyarakat setempat. Salah satu contoh kebangkitan kekuatan muslim adalah berhasilnya menanamkan anasir ajaran tauhid di kalangan Mongol. Peristiwa itu menarik untuk dikaji lebih dalam, karena Bangsa Mongol adalah suku bangsa yang besar dan memiliki pengaruh signifikan di kawasan Asia Tengah dan sekitarnya. Sejarah Islam di kalangan Mongol, dalam banyak hal berbeda dengan sejarah Islam di belahan dunia lain. Mongol, dengan dunianya, akhirnya mampu menerima dan meyakini akidah islamiah sebagai pilihan hidup. Lebih jauh pada beberapa periode Islam, ternyata mampu menjadi spirit dan dasar hokum yang berlaku sebuah institusi kekuasaan. Teramat mengherankan, jika sekelompok suku bangsa yang keras, akhirnya menerima kehadiran Islam tanpa harus dibarengi dengan konflik yang berarti. Pada tahapan tertentu, Islam yang ada di Mongol sama dengan Islam yang ada di India dan Indonesia. Resisten konflik yang ditimbulkannya dalam ruang budaya, social, dan politik relative kecil dibandingkan dengan kehadiran Islam di Asia Barat, Afrika Utara,dan Andalusia.

Kehancuran peradaban Islam (Abbasiah 1258 M) tidak bisa terlepas dari serangan Mongol, Hulagu Khan yang membumi hanguskan Baghdad (1258 M). pada level ini, barangkali Mongol adalah musuh utama bagi Islam kekhalifaahan Abbasiah. Tetapi 40 tahun berikutnya, cicit dari Hulagu, Ghazan Khan membangun kembali peradaban Islam, namun tidak di Asia Bart, melainkan di Sentral Asia, Persia, dan sekitarnya. Ghazan Khan merupakan bagian dari sejarah Dinasti lkhan, tidak hanya itu peradaban Islam di kalangan Mongol, juga ditorehkan oleh penguasa-penguasa Mongol yang lain. Mereka tersebar dalam tiga generasi, yaitu masa Dinasti Caghthai, Golden Horde, dan Ilkhan. Kemajuan pengetahuan, Arsitektur, ekonomi, system administrasi pemerintahan, dan banyak hal lainnya menjadi sumbangan yang tak ternilai bagi sejarah peradaban Umat Islam. Namun dari ketiga dinasti Islam di kalangan Mongol ini, masa Ilkhanlah yang paling maju dalam membangun peradaban Islam.

Sejarah dari ketiga dinasti Islam di kalangan Mongol, berdiri dan membangun peradaban sama dengan dinasti Islam yang lain, penuh intrik,fitnah, dan jading mempertaruhkan darah dan nyawa sekalipun. Namun demikian, sejarah Islam Mongol memiliki keunikan dibanding dengan dinasti-dinasti Islam di belahan dunia manapun, terutama di Asia Barat. Karena secara geneologis, mereka memang tidak berangkat dri keturunan Islam Arab. Tetapi peradaban yang dihasilkan dapat disejajarkan dengan hasil kebudayan dengan dinasti-dinasti di Arab dan India.

Mengkaji sejarah Mongol-Islam, perlu dikembangkan. Mereka memiliki peradaban yang baik bagi teladan umat Islam saat ini dan yang akan datang. Keberhasilan mereka mampu dijadikan cermin, ruang dialektika yang akademis, dan proposional mengenai sejarah Islam di kalangan Mongol senantiasa dikembangkan oleh peneliti lain, sehingga dapat memperkaya pengetahuan kita, khususnya di kalangan Mongol.












DAFTAR PUSTAKA


- Abdul, Karim. Islam di Asia Tengah ( Sejarah Dinasti Mongol- Islam ). ( Yogyakarta: Bagaskara,2006 )
- Badri, Yarim. Sejarah Peradaban Islam ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006 )
- Musrifah, Sunanto. Sejarah Islam Klasik ( Jakarta: Prenada Media, 2003 )
- http://www.google.co.id/gwt/n?u=http%3A%2F%muhlis.files.wordpress.com%2F2007%2F08%2Fperadaban-islam-mongol-trukl-syafawi.pdf&-gwt-pg=0&hl=in&source=m

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar